
Masalah keamanan sekolah di Indonesia bukan lagi isu sesekali muncul, melainkan persoalan struktural yang terus berulang di berbagai wilayah. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman bagi siswa justru kerap menghadapi risiko yang datang tanpa peringatan, mulai dari lemahnya pengawasan hingga sistem keamanan yang belum terkelola dengan baik. Oleh karena itu, memahami kondisi nyata keamanan sekolah menjadi langkah awal yang tidak bisa ditunda.
Secara singkat, akar persoalannya terletak pada ketidaksiapan sistem. Banyak sekolah masih mengandalkan pola lama yang tidak lagi relevan dengan dinamika sosial dan lingkungan saat ini. Akibatnya, potensi risiko berkembang lebih cepat dibandingkan kemampuan sekolah untuk merespons.
Lingkungan pendidikan di Indonesia mengalami perubahan signifikan dalam satu dekade terakhir. Mobilitas masyarakat meningkat, interaksi sosial menjadi lebih kompleks, dan tekanan eksternal terhadap sekolah ikut bertambah. Namun demikian, sebagian besar sistem keamanan sekolah tidak berkembang secepat perubahan tersebut. Kondisi ini menciptakan ketimpangan antara risiko dan kesiapan.
Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah kasus kekerasan di dunia pendidikan Indonesia mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Misalnya, menurut catatan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), jumlah kasus kekerasan di lingkungan pendidikan meningkat lebih dari 100 % antara 2020 dan 2024, dengan total kasus mencapai ratusan kejadian.
Selain itu, Indonesia juga menghadapi tantangan besar berupa kekerasan seksual dan perundungan di sekolah, dimana kedua jenis kekerasan ini termasuk yang paling sering dilaporkan. Ditambah lagi, data Badan Pusat Statistik (BPS) mengindikasikan bahwa sekitar 41 % pelajar di Indonesia pernah mengalami perundungan di sekolah menurut survei terakhir.
Secara global, masalah kekerasan dan perundungan di lingkungan sekolah juga cukup tinggi. Misalnya, menurut UNESCO, sebagian besar anak-anak di banyak negara mengalami beberapa bentuk kekerasan fisik ataupun psikologis saat berada di atau sekitar sekolah selama satu tahun tertentu.
Pengawasan menjadi fondasi utama keamanan, namun sering kali dijalankan secara pasif. Banyak sekolah masih mengandalkan kehadiran fisik tanpa sistem pemantauan yang terstruktur. Akibatnya, aktivitas mencurigakan baru disadari setelah masalah muncul ke permukaan.
Di banyak laporan global, perundungan tetap menjadi masalah dominan di sekolah, di mana sebagian besar siswa mengaku pernah menjadi korban setidaknya sekali dalam periode studi tertentu. Kondisi ini menunjukkan bahwa tanpa pengawasan aktif dan sistematis, insiden agresi dan intimidasi sangat mungkin terus terjadi.
Selain sistem, faktor manusia memegang peran penting. Tidak sedikit sekolah yang menempatkan fungsi keamanan sebagai tugas tambahan, bukan peran strategis. Personel yang kurang terlatih cenderung kesulitan mengenali potensi risiko sejak dini.
Pendekatan ini membuat respons terhadap situasi darurat menjadi lambat dan tidak terkoordinasi. Ketika risiko meningkat, sekolah berada dalam posisi reaktif, bukan preventif. Oleh karena itu, kesiapan sumber daya manusia menjadi salah satu titik kritis yang sering terlewatkan.
Ketika sistem keamanan gagal, dampaknya tidak berhenti pada satu kejadian. Insiden keamanan dapat menimbulkan trauma psikologis pada siswa, menurunkan kepercayaan orang tua, dan mencoreng reputasi institusi pendidikan. Dalam jangka panjang, kondisi ini memengaruhi kualitas proses belajar mengajar.
Efek psikologis dari situasi intimidasi dan kekerasan di sekolah juga telah banyak dikaji di studi internasional; hasilnya menunjukkan bahwa siswa yang menjadi korban agresi sering mengalami gangguan mental, kecemasan, dan penurunan performa belajar.
Selain itu, sekolah juga berhadapan dengan risiko operasional dan administratif. Penanganan insiden menyita waktu, energi, dan sumber daya yang seharusnya difokuskan pada pendidikan. Hal ini menegaskan bahwa tanpa pendekatan sistemik dan manajemen yang matang, sekolah berisiko menjadi lingkungan yang tidak kondusif bagi tumbuh kembang siswa.
Keamanan sekolah tidak bisa lagi dipahami sebagai sekadar kehadiran penjaga atau aturan tertulis. Pendekatan yang lebih relevan adalah sistem keamanan terkelola, di mana pengawasan, personel, dan prosedur saling terhubung. Dengan cara ini, potensi risiko dapat dikenali lebih awal dan ditangani secara terukur.
Dalam praktiknya, banyak institusi pendidikan mulai mempertimbangkan kolaborasi dengan jasa keamanan profesional untuk mengisi celah yang tidak mampu ditangani secara internal. Pendekatan ini bukan bertujuan menggantikan peran sekolah, melainkan memperkuatnya melalui sistem dan standar kerja yang lebih matang.
Salah satu contoh pendekatan tersebut diterapkan oleh City Guard, yang memposisikan keamanan sebagai proses berkelanjutan, bukan tindakan sesaat. Model seperti ini menunjukkan bahwa keamanan dapat dikelola secara lebih terstruktur tanpa mengganggu aktivitas pendidikan.
Masalah keamanan sekolah di Indonesia masih terjadi karena ketimpangan antara risiko yang berkembang dan sistem yang belum beradaptasi. Selama keamanan diperlakukan sebagai pelengkap, bukan kebutuhan utama, potensi insiden akan terus ada. Oleh karena itu, sekolah perlu mulai memandang keamanan sebagai bagian dari manajemen institusi, bukan sekadar respons darurat.
Membangun sistem keamanan yang terkelola dengan baik bukan langkah berlebihan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap siswa, tenaga pendidik, dan seluruh ekosistem sekolah. Kesadaran ini menjadi fondasi penting sebelum risiko berubah menjadi kejadian nyata yang sulit diperbaiki.
Apa yang dimaksud dengan masalah keamanan sekolah di Indonesia?
Masalah ini mencakup lemahnya pengawasan, kesiapan personel yang terbatas, serta sistem keamanan yang belum terintegrasi dengan baik.
Apakah kasus kekerasan di sekolah banyak terjadi?
Data nasional menunjukkan peningkatan signifikan kasus kekerasan di sekolah dalam beberapa tahun terakhir, termasuk perundungan yang dilaporkan oleh puluhan persen pelajar.
Mengapa keamanan sekolah sering dianggap sepele?
Karena insiden tidak selalu terjadi setiap hari, sehingga risiko dipersepsikan rendah hingga akhirnya muncul masalah serius.
Kapan sekolah perlu mulai memperbaiki sistem keamanannya?
Saat sekolah menyadari bahwa pengawasan dan respons yang ada belum mampu mengantisipasi risiko secara menyeluruh.
Your email address will not be published. Required fields are marked (*)